
Apakah Anda pernah mendengar tentang kisah tragis tentang implementasi aplikasi bisnis pada suatu perusahaan ? Berdasarkan pengalaman penulis, selama berinteraksi dengan dunia IT, banyak ditemukan kisah-kisah yang kurang menyenangkan seputar implementasi aplikasi bisnis, baik yang dialami oleh pembeli (user) ataupun yang dialami oleh vendor (pembuat software).
Kisah-kisah tersebut, biasanya disebabkan oleh masalah-masalah klasik yang menyebabkan implementasi yang tidak jelas ujungnya, seperti :
Kisah-kisah tersebut, biasanya disebabkan oleh masalah-masalah klasik yang menyebabkan implementasi yang tidak jelas ujungnya, seperti :
- Business Consultant menganggap gampang / remeh masalah-masalah kecil yang ditemukan pada tahapan user requirement analysis, statemen seperti : ah ..., itu gampang, beres, dijamin pasti jalan, dll, sering diucapkan oleh yg bersangkutan.
- Hal di atas memicu pembeli software mentuntut dipenuhinya janji-janji 'kosong' yang diberikan oleh business consultant. Hal ini biasanya juga menyebabkan konflik internal antara bagian marketing dengan bagian technical.
- Kondisi di atas, biasanya diperparah dengan ketidakjelasan kontrak / kesepakatan tentang pengembangan aplikasi, sehingga kedua belah pihak bisa mengajukan argumentasi berdasarkan interpretasi masing-masing.
- Person yang menginginkan implementasi software pada suatu perusahaan, bukanlah person yang akan terlibat di dalam implementasi, sehingga sering muncul request-request baru yang kadangkala berbeda sekali dengan requirement yang dibicarakan diawal.
- Budaya kerja perusahaan yang susah untuk menerima perubahan, karena sudah nyaman dengan sistem yang digunakan saat ini meskipun masih manual.
- Kualitas database yang dimiliki perusahaan kurang bagus, sehingga memperlama proses implementasi.
- Pengguna software yang trauma dan frustasi terhadap implementasi IT, padahal biaya yang dikeluarkan sudah sangat besar. Pengguna software seperti ini biasanya sangat antipati dan berhati-hati pada saat akan memilih software yang baru.
- Banyak orang yang 'kapok' untuk berbisnis aplikasi, bahkan sudah sangat banyak perusahaan IT di Indonesia yang buka- tutup.
- Buatlah visi produk yang jelas
- Terapkanlah suatu best practise pada suatu proses bisnis, sehingga didapat sebuah produk standar yang dapat mengakomodir mayoritas kebutuhan pada proses bisnis tersebut.
- Buatlah aturan / rule yang jelas terhadap pembelian / penggunaan software
No comments:
Post a Comment